Yatim; di Panti Atau di Rumah?


Salah satu lembaga pendidikan berasrama adalah panti asuhan. Boleh jadi panti ataupun pesantren yatim bukanlah pilihan terbaik, karena bukan pengasuhan normal. Menurut salah seorang praktisi penyantunan yatim yang pernah ditemui Al Madinah, pengasuhan normal adalah di rumah tangga muslim. Pasalnya, di panti sisi human touch-nya tidak sebanding dengan kasih sayang yang diberikan oleh orang tua.

Bagaimana pendapat para praktisi dan pakar atas perihal metode pengasuhan yatim yang ideal? Silakan simak:



Abdul Kholiq, Ketua Himmatun Ayat (Himpunan Muslim Penyantun Anak Yatim) Surabaya

Saya pernah membaca sebuah hasil penelitian yang menyatakan, anak yatim yang dididik di asrama dengan dipaksa atau terpaksa cenderung mengalami reterdensi, yaitu menurunnya potensi kecerdasan anak. Maka menurut saya yang terpenting adalah pengembangan dan pembangunan sumber daya manusia pengelola dan anak yatim, bukan pembangunan gedungnya. Alangkah lebih baik jika anak yatim disekolahkan pada sekolah-sekolah unggulan tanpa harus diasramakan.


Ratna Ellyawati (Ahli Psikologi Klinis, Pengajar Untag Surabaya)

Tradisi kita masih menganut pola extended family (keluaraga besar). Dalam satu rumah masih ada paman, bibi, kakek, dan nenek. Nah anak yatim mungkin bisa memperoleh role model dari mereka. Tetapi tetap saja dalam batinnya anak bersuara, di mana orang tuaku. Dan itu menggugah rasa amannya. Itulah kenapa yatim cederung nakal. Kenakalan itu ekspresi dari pertanyaan yang tidak terjawab, bukan sikap asosial.

Anak yatim tinggal di lingkup keluarga penyantun, itu ideal. Hanya saja untuk mengendalikan perilakunya, seberapa besar orang tua baru itu mampu menguasai anak, sehingga anak mematuhinya.


Sri Siuni (Dosen Psikologi Perkembangan Universitas Surabaya (Ubaya)

Alangkah bagusnya jika si anak yatim diasuh di rumah keluarga sang penyantun, sehingga melebur sebagai anggota. Anak memeroleh tokoh yang bisa dijadikan panutan. Tapi persoalannya, siapa yang mau?

Kalaupun harus tinggal di panti, semestinya panti menyediakan banyak pekerja sosial. Karena semakin banyak pekerja sosial kian banyak pula anak yang memperoleh kasih sayang. Dan mereka harus tahu betul tahap-tahap perkembangan anak. Misalnya, untuk anak SD apa saja yang harus diperhatikan.



Imam Bawani (Guru Besar Pendidikan Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya)

Yatim hidup sebagai anggota keluarga penyantun, itu baik. Asalkan dia bisa bersosialisasi dengan anggota keluarga yang lain. Pertanyaannya, adakah seseorang yang mampu mengasihi yatim persis layaknya mengasihi anak atau saudara kandungnya?

Sebenarnya bukan masalah tinggal di asrama, asalkan sistemnya tepat. Jangan ikuti sistem pendidikan umum. Silakan untuk anak SD dan SMP. Tetapi setelah usia SMA, beri pendidikan keterampilan praktis selama satu. Kurikulumnya 75 % praktik dan sisanya teori. Karena itu yang dibutuhkan yatim. Lulus SMA, kalau anak nggak kreatif dan tidak punya orientasi keterampilan akan sama saja, menganggur dan menjadi beban sosial.

Namun secara umum, di mana pun ia tinggal, pengasuhnya harus mengerti betul ajaran agama dan memeganginya secara kuat. Sehingga berkenan mendidik yatim layaknya anak sendiri.



Hanun Asrohah (Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel)

Anak yatim membutuhkan kasih sayang dari sosok dewasa terdekat untuk mengisi ruang kosong dalam jiwanya. Oleh karena itu, keluarga atau kerabat dekat anak yatim adalah pilihan tepat untuk pengasuhannya.

Tetapi, jika mereka tidak memiliki keluarga atau kerabat yang mampu menjaga, merawat, mendidik, dan mengantarkan mereka menjadi manusia yang berkualitas, maka yayasan sosial mutlak diperlukan untuk mengasuh mereka. Jika ada anak yatim yang terlantar, semua umat Islam harus bertanggung jawab atas kehidupan dan masa depan mereka.

*****

Bukan soal di mana anak yatim diasuh. Sistem pendidikan dan pengasuhannya lah yang harus dirancang dan dikerjakan secara tepat.
(Syafiq)

Comments :

0 komentar to “Yatim; di Panti Atau di Rumah?”

Posting Komentar

Saran, kritik dan komentar anda akan sangat membantu kami dalam mengembangkan web blog ini. Terimakasih

 

koleksi

koleksi

Redaksi

Ketua Pengarah: M. Arif Junaidi. Penanggungjawab: Syarif Thayib (Ketua Yayasan Al Madinah).
­Redaktur Ahli: dr. Muhammad Thohir, Sp.Kj., Ahmad Faiz Zainuddin, S.Psi, Masuki M. Astro, Siti Raudlatul Jannah, S.Ag . Pemimpin Umum: Izzuddin Al Anshary. Pemimpin Redaksi: M. Syafiq Syeirozi. Redaktur Pelaksana: A. Suud Fuadi. Dewan Redaksi: Helmi Jauhari, A. Fathul Hudi. Distributor: Syafi’uddin. Kontributor Edisi ini: Aura Azzahra. Desain/Layout: Abd. Rokhman
Alamat Redaksi: Grha Aitam, Jl. Bratang Binangun IX/25-27 Surabaya. Telepon/Faksimile: (031) 5019424 / 5022212. ­E-Mail: redaksimadinah@yahoo.com. Web Blog: majalah-madinah.blogspot.com