Surat dari Pariaman


Oleh: Jumardi Putra

Editor buku, tinggal di Yogyakarta



“Gempa bumi berkekuatan 7,6 SR pada pukul 17.16 WIB meluluh lantakkan Sumatra Barat.” Begitulah siaran berita di seluruh media massa nasional.

Munawarman tertunduk lesu. Lidahnya kelu. Ketika diajak bicara, ia menjawab sepatah demi sepatah kata dalam waktu lama. Sering kehilangan kata-kata. Wajahnya tampak ingin bercerita banyak, tetapi lidahnya terbata mengeluarkan anak kata-kata.

Lelaki pemilik Rumah Makan Minang di depan kosku itu bukan hanya kehilangan kata-kata. Dalam tempo singkat, ia kehilangan keluarganya secara bersamaan. Walaupun belum ada kabar pasti dari Padang.

”Cobaan ini demikian berat. Saya hanya bisa pasrah, semoga Allah memberi kesalamatan kepada emak, bapak dan adik Izzah di kampung halaman,” cetusnya kepadaku saat aku makan malam di warungnya.

Kekhawatirannya sangat beralasan. Rumah orangtuanya terletak di kaki perbukitan dusun Tandikek. Ia sudah melihat berita di televisi, “Hampir semua penduduk Pariaman yang tinggal di kaki perbukitan tertimbun akibat tanah longsor saat gempa melanda.”

Munawarman terus menitikkan air mata. Tebing pipinya memerah menampung sedih. Ia tidak bisa melakukan apa-apa karena jarak Jawa- Sumatra. Uda Warman, demikian ia akrab disapa oleh para pelanggannya, telah mengarungi nasib di Kota Gudeg Jogja sejak tahun 1995.

Semalam penuh, wajahnya muram. Aku yang diminta menemai kegalauannya terkadang ikut menitikkan air mata, tak tega rasanya. Namun yang kumampu sekadar dukungan morill, menenangkan gelisahnya yang kian menjadi.

“Semua nomor handphone keluarga di Padang tidak aktif. Ya Allah selamatkan keluargaku,” rintihnya berkali-kali sambil mondar-mandir di ruang tamu rumahnya.

“Sabar mas... kita berdoa saja, mudah-mudahan mereka selamat,” sahutku menenangkan.

Semua kolega, sesama perantau asal Padang, baik di Jakarta maupun Bandung dihubungi, jawaban mereka sama. Belum bisa berkomunikasi dengan sanak keluarganya masing-masing.

Kebingungan kian menumpuk di pundaknya. Dua hari gempa besar berlalu, masih belum ada kabar. Sementara jumlah korban meninggal dunia terus bertambah. Hari-harinya tak pernah luput dari televisi. “Barangkali muncul laporan terbaru tentang penduduk dusun Tandikek,” harapnya.

Tanpa pikir panjang, hari ketiga setelah bencana, ia terbang menuju kota Padang. Walaupun waktu itu ongkos pesawat melonjak tinggi sampai tiga juta rupiah.

“Mudah-mudahan bisa bertemu keluarga di sana,” ucapku padanya saat ia berpamitan kepadaku.

*****

Debaran jantung Munawarman mengeras. Bangunan rumah milik keluarga dan tetangganya telah rata dengan tanah. Ia sadar, sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Bergegas ia menelusuri tenda-tenda pengungian. Nihil, sanak familinya tak terlihat. Di dua rumah sakit terdekat, pun tak ditemukan nama-nama mereka.

Ia memutuskan meluncur ke pusat kota Padang, tepatnya Hotel Ambacang. Munawarman duduk termangu di tengah kerumunan orang yang melihat proses evakuasi korban tertimbun.

Saat energi fisiknya terkuras dan hati diliputi kepasrahan, ia mendengar petugas evakuasi menyebut nama seorang perempuan: Munawaroh Izzah Melati. Umur 22 tahun. Bekerja di Hotel Ambacang sebagai resepsionis. Berhasil diselamatkan setelah terimpit reruntuhan beton selama 5 hari.

Ia bergegas menuju sumber suara. Setelah mengamatinya detail, perempuan tersebut diyakini sebagai adik kandungnya. Ia mengikuti rombongan petugas Palang Merah Indonesia yang mengantar Izzah, panggilan adiknya, menuju Rumah Sakit Haji Jamil, rumah sakit utama bagi korban gempa.

Kondisi fisik Izzah memprihatinkan. Kedua mata dan telinga kirinya memar. Tulang punggungnya retak. Kedua kakinya patah. Ingin menampakkan wajah tegar, Munawarman tak mampu. Sesekali pipinya basah oleh air mata ketika melihat adiknya terbaring kaku di atas ranjang.

“Kesempatan hidup Izzah masih ada,” tegas dokter kepadanya.

“Auih bana, Izzah, Kak…. Indak tahan dek Izzah lai…. (Haus benar, Izzah, Kak…. Tidak tertahan lagi oleh Izzah…),” rintihannya memilukan. Hanya tangan kanan yang bisa digerakkan untuk menggapai kakaknya, Munawarman.

”Kak, agiahlah aia Izzah, Kak.... (Kak, berilah air minum adek, Kak…),” kembali Izzah merintih.

”Sabarlah, Izzah harus puasa. Kan nanti malam operasi,” ujar Munawarman menenangkan.

Operasinya berjalan sukses. Izzah pun dipindahkan ke tenda darurat, mengingat pasien lain mengantre giliran operasi. Ceceran darah menjadi potret biasa di rumah sakit Jamil. Bau anyir pun biasa menemani di sepanjang lorong rumah sakit.

Izzah belum dapat mengungkapkan bagaimana bisa bertahan hidup dalam timbunan beton. Hanya rintihan kehausan yang selalu membuat bibirnya bergetar. Keletihan dalam situasi udara yang panas, Izzah tertidur. Munawarman terus mengipaskan karton ke wajah adiknya.

Tidak hanya Izzah, Igor bocah laki-laki berusia sembilan tahun, korban gempa lain yang sedang dirawat di situ, juga terus merintih kesakitan dan kepanasan. Bahkan tangisannya keras dan membuat suasana sumpek. Igor tertimpa runtuhan di pasar swalayan. Kepala bagian kanan terluka. Kaki kirinya pun patah.

”Bedanya, Igor segera dievakuasi beberapa menit setelah gempa. Syukur selamat. Ayahnya yang sedang di rumah, malah meninggal karena sedang di kamar mandi,” kisah Muslihah, ibunya, pada Munawarman.

Bersama korban gempa lain, di rumah sakit itulah hari-hari Munawarman dihabiskan. Sesekali ia menghubungi istri dan dua buah hatinya di Yogyakarta, sekadar memberi kabar.

Malam makin larut. Suasana masih terang-terang sayup karena penerangan masih mengandalkan generator yang terbatas jumlahnya. Sedangkan jumlah pasien ribuan. Di tengah keheningan malam, Izzah menanyakan kabar emak-bapak di dusun Tandikek Pariaman.

Mendengar itu, Munawarman bingung tak kepalang tanggung. Ia belum menerima kabar apa pun tentang emak-bapak di sana. “Ya sudah Izzah, istirahat aja dulu, soal itu nanti dibicarakan” balasnya.

Mendengar jawaban itu, Izzah menangis kecil. Ia paham apa maksud dari jawaban kakaknya. Semua telah terjadi. Tak ada yang bisa mengelak.

*****

Azan shubuh bergema. Izzah membangunkan Munawarman dari kursi, yang tak jauh dari ranjangnya. Munawarman lantas menunaikan shalat dan meneruskannya dengan membaca Al Quran.

Seperti biasa, seusai shalat subuh ia mendongeng tentang kehidupannya di kota gudeg. Cukup panjang ia bercerita, namun kali ini Izzah tak menampakkan gelagat. Munawarman tak khawatir karena menganggap Izzah sedang tidur.

Satu jam berlalu, deru nafas Izzah tak lagi terdengar. Sekujur badannya tampak kaku. Munawarman panik dan memanggil dokter relawan yang hilir mudik di tenda korban.

“Maaf pak, Izzah telah berpulang,” tutur dokter kepada Munawarman.

“Ya Allah kenapa sesingkat ini. Kenapa semua harus pergi meninggalkan saya”, pekik Munawarman.

*****

Di depan gundukan tanah merah, Munawarman meminta izin pamit karena lusa akan berlabuh kembali di tanah rantau, untuk melanjutkan hidup. Sebelum berangkat, ia didatangi oleh Siti Muslihah, ibu Igor yang sebelumnya tinggal bersama di satu tenda. Sepucuk surat dibawanya.

“Sewaktu Uda Munawarman tidur, Izzah meminta kepada saya, menuliskan apa yang ingin ia sampaikan. Jadi, ya itulah kata-katanya untukmu”, kilahnya sambil mengusap air mata.



Untuk Uda Munawarman



Emak-bapak telah pergi, tak bisa kembali lagi.

Pergilah dengan segala kebaikan yang telah kalian tancapkan selama hidup ini.

Pergilah menemui Allah,

Sebab pastilah Dia tidak akan mengubah kebaikan menjadi keburukan.

Kami hantar kepergian kalian dengan tenang nan damai,

walaupun rasa kehilangan tak kuasa kami tutupi dengan cara apa pun.

Uda, aku sayang kamu.

Hanya kamu yang tersisa.


6 Oktober 2009

Padang Pariaman.

Izzah




Comments :

0 komentar to “Surat dari Pariaman”

Posting Komentar

Saran, kritik dan komentar anda akan sangat membantu kami dalam mengembangkan web blog ini. Terimakasih

 

koleksi

koleksi

Redaksi

Ketua Pengarah: M. Arif Junaidi. Penanggungjawab: Syarif Thayib (Ketua Yayasan Al Madinah).
­Redaktur Ahli: dr. Muhammad Thohir, Sp.Kj., Ahmad Faiz Zainuddin, S.Psi, Masuki M. Astro, Siti Raudlatul Jannah, S.Ag . Pemimpin Umum: Izzuddin Al Anshary. Pemimpin Redaksi: M. Syafiq Syeirozi. Redaktur Pelaksana: A. Suud Fuadi. Dewan Redaksi: Helmi Jauhari, A. Fathul Hudi. Distributor: Syafi’uddin. Kontributor Edisi ini: Aura Azzahra. Desain/Layout: Abd. Rokhman
Alamat Redaksi: Grha Aitam, Jl. Bratang Binangun IX/25-27 Surabaya. Telepon/Faksimile: (031) 5019424 / 5022212. ­E-Mail: redaksimadinah@yahoo.com. Web Blog: majalah-madinah.blogspot.com