Jodoh Tetaplah Misteri Ilahi

Oleh: dr. H. Muhammad Thohir, Sp.Kj

Menjadi wanita karir adalah sebuah pilihan. Di era modern, semakin banyak wanita yang berperan penting dalam pelbagai bidang, baik di pemerintahan, perusahaan swasta, maupun lembaga lain. Namun salah satu masalah yang sering mendera wanita karir ialah telat menikah.

Sebagian besar di antara mereka kerap berprinsip, “sukses dulu baru menikah.” Saat karirnya melejit dan usianya tak lagi muda, mereka tersadar akan pentingnya sosok pendamping hidup yang bisa mengisi celah kosong di hati. Betapa pun cerdas dan menjulang prestasinya, wanita normal pasti ingin memiliki belahan hati.

Namun faktor usia tak bisa dipungkiri. Meski karir terbilang sukses, ternyata kesempatan menemukan jodoh yang diangankan semakin sulit. Itulah realitas yang kerap menghinggapi wanita karir, sebagaimana dialami oleh seorang gadis, sebut saja Umi.

Saat kuliah, ia salah satu primadona kampus. Selain cantik, Umi juga cerdas. Banyak rekan prianya yang menyatakan cinta, namun ia tolak secara halus karena memang belum ingin menjalin hubungan serius. Lulus kuliah ia bekerja di sebuah perusahaan swasta di kota kelahirannya.

Setelah lima tahun berkarya, Umi dipercaya sebagai kepala bagian pemasaran. Namun saat itulah kegelisahan menerpanya. Ternyata ia membutuhkan sosok laki-laki teman hidup, untuk berbagi segala suka dan duka, menjadi sahabat sejati membentuk rumah tangga. Belum lagi, gunjingan dari beberapa tetangga yang mengecapnya sebagai perawan tua sebab usianya telah menapak angka 30 tahun.

Tetapi seiring karir, ia justru semakin selektif. Sebenarnya banyak laki-laki yang berharap bisa menikahinya, baik teman seangkatan, rekan kerja, maupun kolega-kolega luar. Namun ia merasa selalu saja ada yang kurang, dari faktor usia, karakter diri, hingga masalah pekerjaan. Ia khawatir faktor-faktor tersebut bisa mengguncang rumah tangganya kelak.

Hampir tiap malam, Umi selalu bermunajat dan melantunkan seluruh harapannya seputar jodoh kepada Allah Swt., Namun hingga usianya mendekati 31 tahun, ia merasa jodohnya bukan semakin dekat, tetapi kian jauh.



Konsekuensi Hidup

Memang segala pilihan menuai resikonya sendiri. Terlambat menikah dan merasa sulit menemukan jodoh merupakan resiko bagi orang yang lebih mengutamakan pencapaian karir. Ini terjadi pada semua orang, lebih-lebih pada wanita. Orang semakin tinggi karirnya, maka wilayah jodoh justru menyempit. Pasalnya, terlalu banyak syarat yang dipatok bagi calon pasangannya. Tetapi sempit tidak berarti tidak ada.

Secara umum usia nikah ideal ialah di atas 20 tahun dan bawah 30 tahun. Sebab itulah masa produktif baik secara hormonal tubuh maupun pekerjaan. Karenanya, wilayah jodoh pun masih terbentang luas dengan bermacam alternatifnya. Itu hitung-hitungan rasional.

Sebenarnya, perkara jodoh tetaplah misteri Ilahi. “Kalau jodoh tidak bisa dihindari, kalau bukan tak bisa direbut. Jika saatnya datang, pasti tak akan mundur, namun juga tak bisa dipercepat.” Terlepas dari itu, manusia ditugasi untuk terus berusaha.

Lantas bagaimana menyikapi kondisi seperti di atas, menurut saya, wanita seperti Umi harus menyadari bahwa keterlambatannya menikah merupakan konsekuensi wanita karier. Tetapi ia tidak boleh putus asa berusaha mencari calon pasangannya. Dengan kesadaran itu, hatinya bisa lebih lapang dan sabar sehingga dapat mengurangi emosi negatif.

Usaha juga harus diiringi memperbanyak berdoa. Dalam kondisi demikian doa terkadang lebih bisa diandalkan. Banyak hal yang seolah mustahil bisa terwujud karena doa, sebab tidak ada impossible bagi Allah. Pasangan suami istri yang tak kunjung dikaruniai keturunan, hingga secara medis divonis tak akan punya anak, ternyata dengan kekuatan doa bisa memiliki anak.

Nabi Ibrahim, sudah tua baru bisa memeroleh putra. Bukan lantaran Ibrahim Nabi lantas doanya terkabul, namun semua manusia asal mau berdoa dan berusaha, pasti Allah mengabulkan, sebagaimana janjinya; berdoalah pasti Aku beri. Adapun kapan terwujud, itu rahasia Tuhan.

Sikap selanjutnya, bagaimana pun wanita seperti Umi mesti realistis dengan menurunkan kriteria calon suami. Bisa jadi kesulitan itu disebabkan anggannya tentang sosok yang sempurna. Memang, Nabi Muhammad Saw memancang empat kriteria dalam memilih pasangan yaitu agamanya, keelokan fisiknya, nasabnya, dan kekayaannya. Namun tentu usianya pula. Jika umurnya sudah tua, tidak perlu mengharuskan dapat perjaka.

Selain itu peran orang tua sangat penting. Orang tua bisa menjembatani kesulitan menemukan jodoh si anak dengan mencarikan calon. Dengan empat cara tersebut itu, saya yakin kegelisahan wanita seperti Umi segera terjawab.

Comments :

0 komentar to “Jodoh Tetaplah Misteri Ilahi”

Posting Komentar

Saran, kritik dan komentar anda akan sangat membantu kami dalam mengembangkan web blog ini. Terimakasih

 

koleksi

koleksi

Redaksi

Ketua Pengarah: M. Arif Junaidi. Penanggungjawab: Syarif Thayib (Ketua Yayasan Al Madinah).
­Redaktur Ahli: dr. Muhammad Thohir, Sp.Kj., Ahmad Faiz Zainuddin, S.Psi, Masuki M. Astro, Siti Raudlatul Jannah, S.Ag . Pemimpin Umum: Izzuddin Al Anshary. Pemimpin Redaksi: M. Syafiq Syeirozi. Redaktur Pelaksana: A. Suud Fuadi. Dewan Redaksi: Helmi Jauhari, A. Fathul Hudi. Distributor: Syafi’uddin. Kontributor Edisi ini: Aura Azzahra. Desain/Layout: Abd. Rokhman
Alamat Redaksi: Grha Aitam, Jl. Bratang Binangun IX/25-27 Surabaya. Telepon/Faksimile: (031) 5019424 / 5022212. ­E-Mail: redaksimadinah@yahoo.com. Web Blog: majalah-madinah.blogspot.com